Chat with Us

Aktifkan STARBOX

Bisnis Batik, Gadis 22 Tahun Ini Miliki Puluhan Karyawan dengan Omzet Miliaran


0

Sukses dalam merintis sebuah usaha kini tak lagi memandang usia. Pengusaha muda sukses pun sudah menjamur di berbagai kalangan di Indonesia. 

Salah satunya Dea Valencia yang kini berusia 22 tahun. Wanita kelahiran 14 Februari 1994 ini menjadi pebisnis muda yang tergolong sukses menjual batik dengan brandnya, Batik Kultur. 

Kini, ia telah memiliki sebanyak 80 lebih karyawan yang membantunya  berjualan batik.  Bisnisnya berawal dari usahanya menjual koleksi batik milik sang bunda.

"Jadi waktu itu ada koleksi mama, dan minta dijualkan dengan online. Ternyata pada proses jualan itu banyak yang tanya, itu batik tahun berapa? Akhirnya saya mencoba belajar jual online," kata Dea di acara Astra Start Up Chalenge di gedung SMESCO Jakarta, Kamis 21 Juli 2016. 

Awal produksi, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya. Dengan harga Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara dengan Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan.

Dea memulai Batik Kultur benar-benar dari nol. Bahkan ia sendiri yang menjadi model Batik Kultur. Wajar karena wajah Dea terbilang cocok di hadapan kamera. Bahkan Dea sendiri yang mendesain produk Batik Kultur padahal ia mengaku tak bisa menggambar.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Salah satu prinsip yang dipegang Dea dalam memasarkan produknya sederhana dan menarik. Ia tak mau menjual barang yang ia sendiri tak suka.

"Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka. Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak cuma batik, Batik Kultur pun merambah ke tenun ikat. Khusus yang satu ini, Dea harus membelinya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu hanya membeli beberapa meter kain, kini sekali kulakan Dea membeli tak kurang dari 400 meter tenun ikat.

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan permasalahan.

Dea menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari sana, referensi untuk Batik Kultur menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Dea mengaku senang menjalani bisnisnya. Memang, kata dia, ada biaya yang harus dibayar untuk mewujudkan sebuah ambisi seperti tak lagi jalan-jalan bersama teman-teman dan tidak ada waktu merumpi bersama teman sebaya.

"Itulah cost of ambition (ada biaya untuk sebuah ambisi).Tujuannya pada saat itu saya ingin  kumpulin uang untuk sekolah S2, pengen cari duit sendiri, dan kuliah pakai uang sendiri," kata Dea. (inf)

(***)

Dari berbagai sumber 


PROFIL PENULIS

Socmed Ebis


Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


TULISAN TERKAIT

Fashion Blogger Ini Terbukti Sukses Berkat Strategi Personal Brand

Personal brand atau citra diri bukan hanya milik orang-orang sukses. Personal brand sesungguhnya hasil proses yang dibentuk secara perlahan, bukan instan. Kini semakin banyak orang menyadari pentin ...

Kisah Inspiratif Chris Gardner, dari Gelandangan Jadi Miliuner

Ketika Chris Gardner dan putranya masih tidur di lantai kasar sebuah toilet umum, ia tidak pernah bermimpi bahwa kisah hidupnya akan diangkat menjadi sebuah film terkenal Hollywood. Awal tahun 1980 ...

Yusuf Mansyur Merambah Dunia Bisnis, Apa Alasannya?

Siapa yang tak kenal dengan Yusuf Mansur? Kepopulerannya sebagai ustad di tanah air mungkin tak kalah dengan para artis sinetron maupun layar lebar di negeri ini. Pria bernama asli Jam’an Nurkhatib ...

Jun Yuan Sukses Kembangkan "11th Hour"

Saat-saat di mana Jun Yuan melihat banyak pedagang yang sia-sia membuang jualan makanannya akibat tidak laku, ia melihat peluang bisnis dengan meluncurkan aplikasi. "Akan ada hari dengan banya ...

Berhenti Jadi Direktur, Kini Malah Sukses Kelola Ratusan Gerai Waralaba

Penganan ayam goreng tepung ala western alias fried chicken sudah lama akrab di lidah masyarakat Indonesia. Waralaba restoran fried chicken asing juga telah menjamur di Tanah Air sejak puluhan tahun s ...

Cerita Inul Daratista Si Pedangdut yang Jago Berbisnis

Belakangan bisnis kue kekinian sedang tren di kalangan para artis Tanah Air. Sebut saja Syahrini, Denada hingga pesinetron Immanuel Caesar Hito juga ikut membuka bisnis kue yang diklaim sebagai oleh-o ...

Julia Gouw, Si Bankir Sukses yang Ditaksir Dunia

Siapa bilang Indonesia adalah negara dengan kualitas sumber daya manusia yang lemah? Banyak bukti bahwa putera dan puteri tanah air memiliki kualitas yang tinggi dan mampu meraih kesuksesan besar d ...

Mantan Jurnalis Muda Ini Sukses Bisnis 'One Minang'

Siapa bilang jadi pengusaha harus punya kekayaan dan modal besar? Mimi Silvia telah membuktikannya. Mantan jurnalis ekonomi di salah satu media massa di ibukota Jakarta tersebut meninggalkan karirn ...

Andris Wijaya Sukses Berinovasi dalam Bulir Beras

Kisah sukses juragan beras 1001, dari jatuh bangun hingga bangkit membawa bulir beras ke Amerika Serikat. Bermula dari usaha rintisan ayahnya dalam mengembangkan beras garut dan mempertahankannya m ...

7 Ide Kuliner yang Paling Laris untuk Bisnis Online

Bisnis kuliner kini menjadi pilihan bagi banyak orang termasuk para pebisnis muda. Mereka mengandalkan kemajuan teknologi dan jaringan informasi serta media sosial untuk memasarkan bisnis secara on ...